Nasib Agamaku di Bumi Pertiwi
September 25, 2009
Islam, agama yang mengajarkan kebaikan, agama yang telah disempurnakan oleh Sang Pencipta untuk kaum Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman. Agama yang dijadikan tuntunan dan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan diakhirat kelak. Agama yang berisi peraturan dan panduan dalam seluruh hidup manusia, baik dalam berteman, mencari jodoh, berdagang, bekerja, dan semua sesuatu dalam hidup manusia. Islam, sebuah agama yang indah.
Kasus yang terjadi di bumi pertwi tempatku lahir dan besar hingga saat ini, Islam sebagai agama yang sempurna terkesan dijadikan sebagai tameng untuk berbisnis dan juga berpolitik. Dalam berbisnis, yang sangat jelas adalah hadirnya seorang (yang katanya) Ustadz sebagai pengamat dan (konyolnya) dia pun berkoar-koar mengumandangkan hukum Alloh dan juga hadist nabi dalam ihwal perjodohan, tetapi dia berkoar di acara Take Me/Him Out yang notabene secara tersirat menyuruh para pesertanya untuk berbuat zina dengan berpelukan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim. hal tersebut jelas-jelas zinah, tetapi dia malah tersenyum dan menjadi pengamat mengenai langgeng atau tidaknya perjodohan tersebut. Sungguh laknat.
Contoh lain lagi adalah ustadz yang berlaku konyol di sebuah acara situasi komedi. Dia berakting konyol dan menggelikan. Padahal, sunnah Rasulullah sendiri secara umum adalah tertawa maupun berlaku konyol secara berlebihan sebisa mungkin harus dihindari, padahal ustadz adalah penerus Rasul setelah Rasululloh tiada. Jadi tingkah laku nya pun harus sebisa mungkin sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Secara Politis, yang paling jelas adalah dalam kasus Syeh Puji yang menikahi gadis di bawah umur. Hal tersebut sebetulnya Halal, karena sesuai dengan hukum nikah, walaupun memang agak keterlaluan. Tapi para ulama sepertinya langsung mengharamkan hal tersebut dengan nada keras. Tetapi hal tersebut kontradiktif melihat banyaknya pasangan (diantaranya artis) yang terang-terangan kumpul kebo atau hamil di luar nikah. Atau seperti kasus acara Take me/him Out. Ke mana sikap tegas mereka??? tidak ada yang berkomentar di TV atau di media lainnya. Bandingkan dengan kasus Syeh Puji dan istrinya yang telah menikah, lebih baik mana???
Belum lagi dengan keputusan-keputusan kontroversial para ulama, yang mengharamkan segala sesuatu yang seharusnya diatur di dalam hukum pidana atau perdata. Contohnya adalah Golput Haram!!!. Hal tersebut seharusnyadapat diatur oleh hukum pemerintah seperti pelanggran lalu-lintas. Padahal dalam suatu sunnah Rasulullah mengatakan secara umum bahwa tidaklah boleh kita mengharamkan sesuatu yang tidak ada dalil kuat (Al-Qur’an dan Sunnah) untuk hal tersebut diharamkan, dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan.
Itulah, yang sekarang aku pikir, mengapa bumi pertiwi ini selalu ditimpa bencana yang bertubi-tubi. Mungkin (menurut pendapatku) adalah karena para alim ulama yang sudah tidak bisa lagi dijadikan pedoman dan tuntunan umat. Wallohu alam.
Sang Pembaharu
Maret 31, 2009

“Tak ada satu bangsa, terutama Eropa, percaya pada kami bangsa kulit berwarna. Mereka bisa percaya dan sayang asal kekayaan bumi kami diberikan pada mereka seboleh-bolehnya dengan cuma-cuma. Sehingga kami miskin, mereka sejahtera. Mereka menjajah, kami dijajah.”
(Tirto Adhi Soerjo, 1880-1918)
Memperingati hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan Nasional kepada 9 tokoh sejarah dari berbagai daerah. Salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan adalah penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20. R.M. Tirto Adhi Soerjo (TAS) diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena aktivitasnya sebagai pelopor pers nasional pribumi pertama di tahun 1907, di Bandung. Anugerah ini diusulkan oleh warga Jawa Barat.
Bagiku, dialah sang pembaharu yang merubah kehidupan bangsa ini, melalui perjuangannya yang dia lakoni dengan menggunakan jalur tinta dan organisasi. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS), sang pembaharu kehidupan bangsa Indonesia. Manusia yang mengesampingkan kehidupan ningratnya untuk berjuang agar bangsa di bawah kolonialisme Belanda di Hindia membuka simpul pikirannya untuk berjuang melawan, bukan untuk bersahabat dengan penjajah, seperti yang dilakukan oleh para raja-raja pribumi, khususnya di Jawa. Dialah Sang Pembuka, Dia Sang Anak Segala Bangsa.
TAS lahir di Blora pada tahun 1880. Dia lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya adalah seorang Bupati Bojonegoro. Ia pun mengecap sekolah HBS (setara SMU) yang merupakan sekolah khusus Totok (Eropa Asli), Indo, dan Pribumi keturunan Raja. Di HBS, dia belajar mengenai demokrasi dan kesetaraan di Eropa. Di masa inilah, naluri kebangsaannya tumbuh. Dia melihat terlalu banyak ketidak adilan yang dirasakan bangsa pribumi oleh aturan-aturan kolonial Belanda. Selepas lulus dari HBS, ia pun melanjutkan sekolah ke Stovia di Betawi (sekarang Jakarta). Sekolah kedokteran khusus untuk golongan indo dan pribumi keturunan raja. Namun, dia tidak menyelesaikan sekolahnya, karena lebih tertarik masuk ke dalam dunia jurnalistik dan organisasi yang kala itu dipelopori oleh masyarakat Tiong Hoa dan Arab. Ia pun kemudian pindah ke Bandung dan menikah dengan anak seorang tahanan politik asal pulau Halmahera.
Kedigdayaan jurnalistik Tirto, pertama kali terjadi pada tahun 1902. Goresan pena tajam Tirto Adhi Soerjo berhasil memenangkan perkara atas ketidakadilan yang dialami bangsanya. Residen Madiun, J.J Donner, berkonspirasi untuk melengserkan Brotodiningrat dari jabatannya sebagai Bupati Madiun. Donner yang bersengkokol dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun, Mangun Atmojo dan Adiputro, resah karena kerap berselisih paham dengan Bupati Madiun itu. Kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Donner melapor bahwa Brotodiningrat adalah gembong sejumlah kerusuhan yang terjadi di Karesidenan Madiun, bahkan di seluruh Jawa. Akibat laporan palsu tersebut, Brotodiningrat dinyatakan bersalah dan dibuang ke Padang sebagai pesakitan.
TAS tak tinggal diam. Ia mengumpulkan data tentang ketidakbenaran laporan Donner. TAS berseru pada pemerintah agar segera dilakukan penyelidikan. Di surat kabar Pembrita Betawi, tulisan TAS muncul secara kontinyu selama sekian bulan, dari April hingga Agustus 1902. Setelah melalui proses pemeriksaan ulang dan berdasarkan beragam keterangan serta data-data, termasuk apa yang diserukan TAS di Pembrita Betawi, akhirnya pemerintah mengklarifikasi keputusannya dengan menjelaskan bahwa Brotodiningrat adalah korban salah simpul dan keliru tafsir.
Pada tahun 1903, ia menerbitkan surat kabar pertamanya yaitu Soenda Berita. Inilah media massa pribumi pertama, yang dimodali, dikelola, serta diisi tenaga-tenaga pribumi sendiri. Media TAS adalah media mandiri, tidak di bawah perintah siapapun. Ia tak ingin bangsanya hidup di rumah kaca, yang segala tindak-tanduknya diawasi untuk kemudian disikapi dengan kekejian oleh pemerintah kolonial. Bersama Soenda Berita, TAS menumpahkan semua yang ada di alam pikirannya, yang menjadi tujuan dan idealismenya selama ini: memadukan perdagangan dan pers dengan tujuan untuk memajukan bangsa.
Di tahun 1907, TAS kemudian menerbitkan surat kabar Medan Prijaji di bandung (jl Naripan no.1) yang terbit bulanan dengan menggunakan bahasa melayu, yang kemudian terbit harian pada tahun 1910 dengan tiras 2000 eksemplar per hari, yang pada saat itu sangatlah besar, salah satu yang terbesar di dunia. Medan Prijaji adalah media advokasi pembela kepentingan rakyat, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada bangsa pribumi. Orang-orang pribumi yang merasa ditindas dan dirugikan oleh aparat pemerintah, juga pihak-pihak lain, dipersilahkan menyuarakan pengaduannya melalui redaksi Medan Prijaji. Lewat tulisannya yang tangkas dan mempesona, TAS melakukan pembelaan atas kasus-kasus yang dialami bangsanya, dan itu sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial. Tanpa disadari, TAS telah merintis salah satu peran media yang kini dikenal dengan jurnalisme advokasi: pers sebagai media pembela kepentingan rakyat yang tertindas.
Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto di bawah nama “Medan Prijaji” sbb: “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda”.
Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Surjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.
Kasus yang melegenda dari medan prijaji adalah kasus penganiayaan dan pembunuhan seorang siswa pribumi oleh guru totok Belanda. TAS geram. Ia datangi korban, berikan pengayoman, dan berkata, “Kita akan bikin ini menjadi perkara. Jangan takut pada pengadilan!” Esok harinya, tulisan pembelaan TAS atas kasus ini muncul di surat kabar Medan Prijaji sebagai berita utama, hingga menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pengadilan pun digelar, kasus disidangkan, vonis pun diputuskan: guru itu dipecat dan dikembalikan paksa ke negeri Belanda.
Dikarenakan pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji yang sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, membuat Medan Prijaji terkena delik pers pada tahun 1912 yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.
Di bidang organisasi, ia tak kalah melegenda. Pada tahun 1904, TAS mendirikan organisasi Sarekat Priyayi, sebuah organisasi yang diperuntukkan untuk kaum priyayi (sekarang PNS). Namun, organisasi ini tidak berjalan sesuai dengan yang ia rencanakan. Ia pun kemudian mengalihkan basis masa, dari golongan priyayi ke golongan pedagang. Ia pun kemudian menjadi penggagas berdirinya Sarekat Islam yang pada kala itu diketuai oleh H. Samanhudi. Ia bergerak di belakang layar. Yang paling terkenal adalah propaganda ”Boycott” yang ia serukan kepada para pedagang yang notabene mayoritas adalah anggota Syarikat untuk menolak membeli barang-barang dari pedagang Belanda, dan mengalihkan kerjasama dagang dengan golongan Tionghoa dan Arab. Perlu diketahui Syarikat Islam adalah organisasi pribumi pertama yang berjuang di untuk melawan kolonialisme Belanda, bukan Budi utomo ataupun Indische Partiej yang selama ini disebut oleh buku-buku sejarah.
Ketika TAS di buang ke Pulau Bacan, Syarikat Islam mengubah nama menjadi Syarikat Dagang Islam (SDI) yang diketuai oleh HOS Tjokroaminoto. SDI adalah organisasi dengan jumlah massa terbesar di Hindi yang anggotanya mencapai ratusan ribu. Organisasi besar yang merupakan hasil gagasan dan perjuangan dari TAS.
Antara tahun 1914-1918 sekembalinya ia dari Pulau Bacan, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia. Baca entri selengkapnya »
Kolonialisme yang masih ada…
Maret 23, 2009
Sudah lebih dari setengah abad, bangsa Indonesia terbebas dari kerangkeng penjajahan yang lebih dikenal dengan nama kolonialisme. Suatu paham untuk menguasai sumber daya alam yang dikandung di bumi jajahan dengan jalan menaklukan bangsa di tanah yang akan dikuasai, sekaligus menguasai bangsa yang asal yang tinggal di bumi jajahan tersebut.
Belanda, sebagai penjajah terlama yang menghisap bumi pertiwi ini, datang dengan usungan awal mencari tanah baru untuk bisa membantu negaranya dari sisi ekonomis, dan Hindia adalah ladang yang penuh dengan sumberdaya yang luar biasa banyaknya. Mereka pun tampil sebagai penakluk bangsa hindia, kemudian memusatkan kekuasaan di tanah jawa.
Yang menjadi penekanan, mengapa bangsa belanda dapat bercokol begitu lama di bumi pertiwi?. Jawabannya adalah karena mereka mempelajari secara komprehensiv karakter dan watak bangsa Hindia, yang diwakili oleh raja-raja pribumi. Mereka menemukan, bahwa di Jawa banyak terdapat raja-raja yang memerintah suatu wilayah tertentu dengan seenak perutnya, akan tetapi rakyat dari raja tersebut tetap patuh. Setelah diteliti, para rakyat tersebut patuh walaupun nuraninya berteriak, tidak lain karena sebuah harapan agar sang raja tersebut akan menjadi tempat mereka bernaung. Walaupun mereka harus menggadaikan harga diri mereka dan megesampingkan hati mereka yang berontak dengan apa yang mereka perbuat. Mereka mendukung apapun yang diperintahkan raja, tanpa memikirkan nasib rakyat atau rekannya yg lain. Yang mereka pikirkan hanya agar posisi dan kehidupan nya terjamin. Sebuah budaya feodalisme yang sangat mengakar, yang merupakan kelemahan terbesar bangsa ini.
Hal inilah yang kemudian dipergunakan oleh Belanda untuk terus menancapkan kekuasaannya. Mereka mendekati para raja-raja tersebut dengan segudang fasilitas dan daerah kekuasaan, untuk kemudian membuat perjanjian agar mereka tunduk dan membantu Belanda dalam semua segi. Diberi kekuasaan, menjadikan raja-raja tersebut sumringah. Mereka bangga dapat memiliki kekuasaan, dan akhirnya mereka menjadi boneka belanda dalam meneruskan kebijakan-kebijakan Belanda kepada masyarakat di setiap daerah kekuasaannya.
Belanda yang datang dengan pengetahuan Eropa yang demokratis, yang asalnya akan menerapkan faham itu di bumi Hindia, kemudian mengurungkan niatnya. Kenapa??, karena Belanda melihat bagaimana sistem kekuasaan di Hindia, dimana para raja begitu dihormati dan dianggap dewa. Para raja yang dengan keji menzolimi penduduknya untuk keuntungan pribadinya, dengan cara menekan rakyatnya untuk memberikan upeti sebesar-besarnya kepada sang raja, dan para rakyat hanya bisa pasrah. Sikap pasrah sebagai keadaan mereka yang tidak tahu harus berbuat apa untuk melawan. Sebuah buah dari kebodohan dan ketidakberanian. Akhirnya Belanda menjadikan para raja sebagai kaki tangan kekuasaannya, sebuah tindakan yang efisien, cukup kuasai rajanya, maka rakyatnya pun akan patuh. Dari hal inilah, muncul istilah kolonialisme Belanda. Apa pun yang Belanda inginkan, tinggal menyuruh para raja untuk menyampaikan ke rakyatnya, dan belanda hanya tinggal mengontrol pelaksanaan kebijakan tersebut di tiap daerah. Sungguh tragis.
Para raja pribumi yang haus akan kekuasaan, yang berlomba-lomba memberikan upeti kepada penjajah Belanda, dengan hasil peluh dan keringat penduduk pribumi. Penduduk pribuni yang hidup dalam kemelaratan dan kebodohan. Sementara sang raja, hidup bermewah-mewah dibawah ketiak Belanda. Itulah nasib bangsa ini di bawah kolonialisme Belanda dan para Raja Pribumi.
Kolonialisme Belanda. Dimana seorang pimpinan hanya mengetahui istilah “melarang, menyuruh, dan tersenyum merendahkan”, sedangkan bawahannya tidak mempunyai hak untuk berargumen dan wajib mengatakan “Ya”, sembari menjilat dan menghambakan dirinya kepada para pimpinannya. Itulah sebuah budaya feodal dan kolonialisme ala Belanda yang mereka pelajari dari para raja-raja bangsa kita pada jaman dahulu, yang memanfaatkan watak bangsa kita yang haus dengan kekuasaan, pujian dan juga materi. Sebuah bangsa yang terhanyut dalam kekuasaan, yang menganggap bahwa bila menjadi pemimpin, ia adalah seorang raja yang bebas menyuruh bawahannya.
Itulah yang kulihat dan kurasakan di salah satu instansi tempatku mengabdi. Para pemimpin, membuat peraturan-peraturan yang merugikan karyawan, dengan jargon bahwa para karyawan telah mendapat penghsailan tambahan dari instansi itu. Tetapi apa yang didapat instansi dari jerih payah seluruh karyawan jauh lebih besar dari apa yang dibagikan kepada para karyawan. Ditengah menjeritnya para karyawan dengan tingkat kesejahteraan yang minim, para pemimpin mengirimkan upeti kepada pusat yang jumlahnya sangat besar, agar mereka dapat duduk dengan nyaman di posisi mereka. Agar sanjungan datang ke telinga mereka dan membuat bangga hatinya. Sungguh kenyataan yang pahit.
Sebuah pendapat saja, dari apa yang kurasakan dan dan kusaksikan. Sebuah keluh dan kesah dari jiwa yang hanya bisa pasrah dan hanya menjerit melalui tulisan.
Sisi Lain Wanita…
November 12, 2008
Wanita, makhluk ciptaan Tuhan yang entah mengapa, dapat membuat kaum pria rela untuk melakukan apapun untuk nya. Makhluk ciptaan Tuhan, yang meskipun memiliki kulit, tulang , dan sistem kehidupan yang umumnya yang sama dengan pria, namun memiliki nilai pesona keindahan melebihi apaun di muka bumi ini. Sebuah kelebihan yang dianugerahkan Sang Pencipta khusus kepada makhluknya yang disebut wanita. Dibalik semua keindahan tersebut, terdapat sejuta tanya mengenai hati dan perasaan wanita. Selama aku hidup, aku masih belum dapat memahami apa yang ada di hati maupun pikiran setiap wanita. Sepanjang pergaulanku dengan wanita, terdapat pribadi-pribadi unik namun misterius mengenainya. Namun terdapat beberapa hal yang dapat aku pelajari mengenai wanita, yang juga selaras dengan yang disampaikan Rita A. Houlihan dalam bukunya berjudul Woman Talks About Women.
Terdapat tiga hal yang mendasari tingkah hidup kaum hawa, yaitu (Houlihan, A., Rita) :
1. Kehidupan wanitua dipusatkan pada orang lain. Hal ini nampak dalam kecendrungan dan dorongan hatinya untuk mencintai dan memberi
2. Hidup yang selalu dipusatkan pada orang lain mempunyai konsekuensi lebih lanjut. Wanita akan mengalami semacam kegelisahan, apabila ia tidak mempunyai kesempatan untuk mencinta. Kesempatan tersebut berkaitan dengan pula dengan kebutuhannya akan kepastian. Kegelisahan tersebut dapat dipulihkan kalau mereka mendapat kepastian bahwa dirinya diterima, diakui, dicintai, dan dipercayai. Tanpa kepastian ini mereka biasanya enggan untuk mencinta, disaat itulah kecemasan dan kegelisahan mulai muncul.
3. Wanita pada umumnya sangat peka, subyektif, dan memperhatikan akan hal-hal kecil. Semuanya punya kaitan dengan minatnya dengan orang lain.
Tiga hal tersebut kemudian dijabarkan dengan terperinci mengenai polah kaum hawa, yaitu:
a. Kecendrungan untuk memusatkan perhatian pada orang lain, membuat wanita peka terhadap setiap keadaan. Setiap situasi dan peristiwa ditanggapinya secara pribadi. Apa yang dirasakannya, itulah yang dipertahankan tanpa suatu analisa terlebih dahulu, sehingga objektivitas terhadap masalah tidak mendapat tempat.
b. Dalam relasi dengan orang lain, wanita lebih menempatkan dirinya sebagai pemberi reaksi. Mereka umumnya cenderung untuk tidak mengatakan apa yang dia pikirkan, tetapi mengatakan apa yang menurut pemikirannya dikehendaki oleh orang lain. Namun hal ini tidak berarti bahwa wanita picik. Tindakan tersebut bukanlah suatu perbuatan yang direncanakan, tetapi merupakan intuisi kewanitaannya. Reaksi yang timbul dari kebutuhannya akan rasa aman, sehingga tidak heran kalau mereka cenderung untuk mencocokan jawabannya dengan reaksi orang lain.
c. Cinta adalah elemen dasar dari kehidupan wanita. Wanita akan dapat melakukan apapun bila ia mencintai, dan akan melakukan lebih apabila ia tahu dicintai.
d. Senyum dari orang sekitar, terutama dari kaum lelaki, memberikan kesan yang mendalam di hati wanita. Senyum memberikan kepastian bahwa mereka disukai.
Menutut analisa dan pengalamanku bersama wanita, yang paling membahayakan bagi wanita adalah point c. Bila ia merasakan dirinya dicintai, dia pun akan merespon dengan berusaha menunjukkan bahwa ia pun mencintai. Sebuah hal yang menjadi sasaran empuk bagi para lelaki. Wanita akan memberikan apapun yang diminta orang yang memberinya cinta, baik cintanya sendiri, waktu, harta, dan yang paling berbahaya adalah fisiknya. Memang tidak semua wanita begitu, banyak pula wanita yang lebih berpikiran cukup saja memberikan cinta tanpa perlu memberikan fisiknya. Aku hanya bermaksud agar para wanita lebih bisa berhati-hati dalam menjaga kesucian dirinya, karena menurut pandanganku secara subjektif, para lelaki adalah makhluk yang senantiasa memanfaat kan kesempatan untuk mendapatkan apapun dari wanita, baik cintanya, terutama hubungan fisik. Oleh sebab itu, wanita harus secara objektif dalam menilai cinta, terutama dari lawan jenisnya. Jangan sampai melepas apa yang berharga dari dirinya demi cinta pasangan terutama pria sebelum hal-hal tersebut menjadi sesuatu yang legal, khususnya secara agama.
Wanita dilahirkan untuk mencinta dan memberi demi cinta. Wanita hidup dengan hatinya. Inilah sisi hidup wanita yang harus kita jaga dan perhatikan.
Bangsa Kebakaran Jenggot
Oktober 30, 2008
Judul di atas aku anggap sangatlah tepat bila disematkan kepada bangsa Indonesia. Kenapa?, ya, karena menurutku, bangsa di Negara ini sangat mudah terpancing akan isu-isu yang merebak, untuk kemudian berlomba-lomba dalam menunjukkan eksistensi diri ataupun kelompoknya dengan melakukan aksi-aksi berupa kecaman, demonstrasi, ataupun hanya berpendapat,baik secara nasional ataupun secara lokal dengan berargumen di warung kopi. Contoh yang paling hangat dari adalah ketika terekspose (entah sengaja ataupun tidak) seorang pengusaha dan pemilik pondok pesantren di Semarang yang menyebut dirinya Syeikh menikahi seorang gadis berusia 12 tahun, yang notabene dianggap masih bocah ingusan.
Mendengar berita tersebut, berbagai kalangan sontak memberikan tanggapan, yang kurasa hampir semuanya menyudutkan sang Syeikh dengan alasan pelanggaran hak anak, pelanggaran UU, dan berbagai kecaman lainnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) lebih dulu mengambil tindakan dengan melaporkan Syeih tersebut ke kepolisian, Kak Seto tak mau tinggal diam, dia bahkan langsung menemui syeikh dan berbicara empat mata, entah apa yang mereka bicarakan, sampai akhirnya syeikh tersebut memulangkan istrinya ke orangtuanya. Belum lagi pendapat dari MUI, para ustadz, anggota dewan, dan masyarakat sipil yang ramai-ramai mengecam.
Yang paling menggelikan, saking mudahnya terbakar suasana, terjadi unjuk rasa oleh para guru dan murid Taman Kanak-kanak (TK) di Bogor. Aksi mereka tentu saja mengecam tindakan menikahi wanita di bawah umur dengan alasan utama, seharusnya wanita itu bersekolah. Apa yang ada di pikiran para guru tersebut, sehingga (menurutku) menghasud anak didiknya yang belum mengerti apa-apa hanya sebagai alat. Para guru yang seharusnya mendidik murid-muridnya (kembali menurut pendapatku) dengan upaya argumentatif dan solutif dalam menyelesaikan masalah.
Seberapa pentingnyakah KPAI, Kak Seto, Para pejabat, dan masyarakat sibuk mengurusi urusan pernikahan tersebut, dibandingkan dengan (mungkin) jutaan anak dibawah umur yang hidup dijalanan, menggelandang, mengamen, bahkan meminta-minta tanpa pernah berpikir mengenai sebuah masa depan yang cerah dan penuh keceriaan. Apakah mereka juga memikirkan solusi yang jelas mengenai banyaknya wanita dibawah umur yang dijual kelamin dan keperawanannya. Apa juga mereka sadar bahwa di tanah air Indonesia ini sangat banyak anak-anak yang (terpaksa) putus sekolah, karena ketidakmampuan ekonomi orang tua, apa yang komisi dan orang-orang yang mengaku pelindung hak-hak anak lakukan?? Dimana pula para ustadz yang mengecam pernikahan tersebut, ketika dilingkungannya banyak terjadi perzinahan yang dilakukan dengan kedok berpacaran yang kini dilakukan secara luar biasa terang-terangan???
Kembali kepada persoalan pernikahan di usia dini tersebut, apakah juga mereka berpikir secara komprehensive, mengenai nasib dan masa depan anak berusia 12 tahun itu ketika dipaksa bercerai dengan suaminya, bagiku semuanya adalah sebuah upaya pengakuan terhadap sebuah eksistensi yang layak ditertawakan. Aku pun tidak menyetujui pernikahan di usia dini tersebut meskipun secara agama tidak dilarang, karena dari segi psikis dan jasmani dia belum siap ke jenjang tersebut. Apalagi membayangkan dirinya putus sekolah, padahal dia maupun orang tuanya dikategorikan mampu. Aku pun muak dengan tingkah orang (yang mengaku) syeikh tersebut yang sangat arogan. Terus terang, tulisanku ini hanyalah sebuah ungkapan kekesalan kepada para petinggi dan juga kepada bangsa ini (termasuk diriku sendiri) atas kelakuan-kelakuan yang lebih membesarkan hal-hal yang (kuanggap) sepele dibandingkan hal lain yang sangat penting untuk segera ditangani.
Aku hanya bisa berharap, para pemimpin bangsa, pemimpin LSM, serta semua warga bangsa ini dapat belajar berpikir secara sistematis dan menyeluruh dalam menyikapi pelbagai masalah, sehingga solusi yang didapat adalah solusi yang optimal dan menguntungkan banyak pihak. Ya, aku berharap bangsa ku menjadi bangsa seperti itu…
Aku Rindu Padamu
Oktober 30, 2008
Sudah hampir satu tahun lamanya sejak kita terakhir bertemu. Waktu telah berlalu sejak terakhir aku menjamah dirimu. Pertemuan terakhir yang merupakan sebuah tragedi bagi diriku yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku tak pernah tahu, apakah saat tersebut merupakan saat yang terakhir kau izinkan aku untuk menjamahmu?.
Sudah hampir dua tahun kebersamaan kita. Pada saat itu, kau izinkan aku untuk menyentuhmu agar dapat mengetahui lekuk-lekuk tubuh indahmu. Aku pun kau izinkan untuk mengambil sebagian dari dirimu itu untuk aku pelajari dan nikmati. Aku pun kau izinkan untuk mengambil gambar dari tubuh dan kulitmu yang halus, sehingga aku bisa melihat dengan jelas perhiasan-perhiasan yang kau kenakan dan warna kulimu yang menggelorakan hatiku. Ketika aku menyusuri indahnya dirimu, rona tubuhmu pun berubah-ubah sesuai dengan lekukan-lekukan yang kau miliki, diiringi gerakan-gerakan yang gemulai sampai pada gerakan mu yang meronta-ronta.
Pada masa-masa sebelum dua tahun yang lalu, aku selalu datang kepadamu sebagai penikmat dan pengagum dirimu. Kau pun memperlakukan ku dengan sangat lembut, sehingga aku selalu terpukau oleh indahnya dirimu, tak pernah bosan aku memandang dan menyentuhmu. Aku pun sangat menikmati setiap desah nafasmu yang datang menyapu seluruh tubuhku, sehingga secara tak sadar mata ku tertutup untuk lebih menikmati sensasi kenyamanan yang kau berikan.
Namun, setelah waktu itu aku datang sebagai seseorang yang hanya bernafsu untuk melihat lekuk tubuhmu, seseorang yang menganggap dirimu hanya sebagai subjek pemuas kebutuhan ku dan kebutuhan manusia-manusia lainnya. Aku datang kepadamu, sebagai seseorang yang memberikan berita kepada orang lain mengenai detil tubuh mu, baik dari kulit terluar hingga ke organ dalam milikmu. Detil berita, yang kemudian digunakan oleh orang-orang tersebut untuk mereguk dan mengambil kenikmatan tanpa batas dari dirimu. Namun, kau tetap tenang dan tegar dalam menghadapinya, walau pun terkadang kau marah, namun kau selalu kembali tenang dan membiarkan orang-orang tersebut kembali menjamah dan mengambil keuntungan darimu. Aku tahu engkau mengerti, meskipun dirimu semakin renta karena sari-sari dirimu senantiasa terus diambil, walaupun engkau terus disakiti dan dinodai, bahkan meskipun ada beberapa bagian dirimu yang jadi cacat dan lumpuh karena berbagai ulah manusia, engkau tetap sabar dan membiarkan mereka menghancurkanmu, karena engkau mengerti bahwa itulah fungsimu sebagai subjek untuk memuaskan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan banyak manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi ini.
Aku hanya bisa berharap, bahwa di suatu hari nanti aku dapat bertemu kembali denganmu, tidak hanya sebagai manusia yang mereguk keuntungan dari dirimu, tetapi juga sebagai seorang manusia yang ingin menikmati dan mengagumi setiap jengkal tubuhmu yang diciptakan dengan sangat luar biasa oleh Penciptamu. Sebuah karya yang mendekati sempurna hasil penciptaan Alloh SWT yang maha sempurna dan tiada bandingan.
Aku rindu padamu…aku benar-benar rindu padamu Laut ku!!!!
Aku Siap Membuat dan Menjadi LEGENDA
Oktober 30, 2008
Tiga tahun terakhir ini menyajikan berbagai hal yang sangat luar biasa dalam petualangan hidupku. Dua tahun yang menyajikan gemerlap kehidupan yang berjalan bagaikan sebuah putaran roda. Selalu ada hal-hal yang muncul dengan nuansa Yin dan Yang. Dua tahun yang memberi arti yang dalam bagi hidupku, karena dikurun waktu inilah terjadi berbagai macam pengalaman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, dan dengan adanya pengalaman-pengalaman tersebut aku mendapat banyak pelajaran dan hikmah, yang bagiku merupakan harta yang sangat berharga di dalam proses pencarian jati diriku menjadi seorang manusia dewasa.
Dikurun waktu tersebut, aku pernah bertemu dengan manusia-manusia luar biasa. Manusia-manusia dengan berbagai kemampuan dan pola pikir yang luas, manusia-manusia yang mempunyai jiwa sebagai seorang pemimpin, manusia-manusia bijaksana, manusia-manusia yang menyadarkanku dari kecilnya diriku ini. Manusia-manusia yang membuka ikatan simpul berpikirku. Manusia-manusia yang memacuku untuk tidak hanya melihat punggung mereka, tetapi untuk bisa sejajar dan bahkan melebihi mereka dalam semua hal.
Aku pun pernah bertemu dengan manusia –manusia picik, licik, bermuka dua, dan haus akan kekuasaan dengan menghalalkan semua cara. Aku pernah merasakan, bagaimana orang yang aku percayai untuk menampung semua keluh kesahku, kemudian berbalik menyerangku dengan menghancurkanku sehancur-hancurnya. Aku pernah merasakan bagaimana aku dikhianati oleh seseorang yang sangat aku percaya sebagai kawan baikku, sebuaf pengkhianatan yang terjadi di saat aku benar-benar terpuruk, sehingga aku merasa semua kepercayaanku dan kasihku sebagai seorang teman diinjak-injak. Aku pun pernah merasakan, orang yang aku benci, yang aku sepelekan, malah muncul sebagai seseorang yang dengan ikhlas menolong diriku dari semua keterpurukanku, dan senantiasa menjadi kontrol dalam hidupku.
Dalam dua tahun ini pula, aku pernah merasakan diriku mencintai dan juga sangat dicintai oleh seseorang. Dalam waktu ini pun aku pernah meninggalkan seseorang hanya karena ego-ego ku yang ingin selalu muncul sebagai pemenang tanpa mau tersaingi oleh ego-ego yang lain selain ego milikku. Dalam kurun waktu ini Aku pun menjadi tahu betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi dan cintai, rasa sakit yang menyayat tidak hanya perasaan, namun menjalar ke semua sistem saraf dan otak ku. Aku menjadi tahu sakitnya perasaan ditinggalkan. Aku menjadi tahu bagaimana sangat berdosanya diriku ketika aku berperan sebagai seseorang yang meninggalkan setelah aku berperan sebagai seseorang yang ditinggalkan. Aku hanya bisa berharap, bila aku diberikan lagi kesempatan untuk mendapatkan rasa mencintai dan dicintai, aku tak akan menyia-nyiakan, aku akan berusaha memberikan semua yang terbaik dariku, dengan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai kontrol, agar semua kesalahanku di masa-masa yang lalu tidak pernah terulang kembali.
Diwaktu ini pun, aku pernah merasakan kejayaan. Aku pernah merasakan bahwa diriku sangatlah dibutuhkan. Aku merasa sebagai satu-satunya orang yang dapat melakukan sesuatu dengan baik. Aku pernah merasa bahwa hanya dirikulah yang dapat diandalkan dan paling dapat dipercaya. Dikurun waktu ini pulalah aku pernah merasa dicampakkan, merasa disisihkan, merasa bahwa diriku ini tidak ada, dan aku pun pernah merasa diriku ini tidak lagi berguna.
Dalam kurun waktu ini pun berbagai kejadian datang dan juga pergi. Aku pernah merasakan kejadian yang teramat manis, sehingga sampai detik ini pun aku masih belum dapat melupakan manisnya hal tersebut. Aku juga pernah mengalami kejadian, yang bagi diriku adalah sebuah tragedi. Tragedi yang sampai detik ini selalu terpatri dalam memoriku, dan bahkan masih sering hadir menghantui mimpiku.
Berbagai kejadian dalam hidupku, terutama yang terjadi di dalam dua tahun terakhir ini adalah merupakan hadiah yang sangat berharga dari Alloh SWT bagi hidupku dalam menyongsong era baru hidupku. Sebuah masa yang benar-benar berbeda dari yang pernah aku lakukan dulu. Akan kurajut kembali benang-benang cita-cita dan impianku, akan kucurahkan semua kemampuan, peluhku, bahkan darahku, sehingga benang-benang tersebut benar-benar menjadi sebuah permadani masa depanku yang indah dan dihiasi cahaya yang cerah.
Dengan semua ini, aku siap….Ya, aku siap untuk membuat dan menjadi LEGENDA!!!!
Hello world!
Oktober 30, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!