
“Tak ada satu bangsa, terutama Eropa, percaya pada kami bangsa kulit berwarna. Mereka bisa percaya dan sayang asal kekayaan bumi kami diberikan pada mereka seboleh-bolehnya dengan cuma-cuma. Sehingga kami miskin, mereka sejahtera. Mereka menjajah, kami dijajah.”
(Tirto Adhi Soerjo, 1880-1918)
Memperingati hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan Nasional kepada 9 tokoh sejarah dari berbagai daerah. Salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan adalah penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20. R.M. Tirto Adhi Soerjo (TAS) diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena aktivitasnya sebagai pelopor pers nasional pribumi pertama di tahun 1907, di Bandung. Anugerah ini diusulkan oleh warga Jawa Barat.
Bagiku, dialah sang pembaharu yang merubah kehidupan bangsa ini, melalui perjuangannya yang dia lakoni dengan menggunakan jalur tinta dan organisasi. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS), sang pembaharu kehidupan bangsa Indonesia. Manusia yang mengesampingkan kehidupan ningratnya untuk berjuang agar bangsa di bawah kolonialisme Belanda di Hindia membuka simpul pikirannya untuk berjuang melawan, bukan untuk bersahabat dengan penjajah, seperti yang dilakukan oleh para raja-raja pribumi, khususnya di Jawa. Dialah Sang Pembuka, Dia Sang Anak Segala Bangsa.
TAS lahir di Blora pada tahun 1880. Dia lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya adalah seorang Bupati Bojonegoro. Ia pun mengecap sekolah HBS (setara SMU) yang merupakan sekolah khusus Totok (Eropa Asli), Indo, dan Pribumi keturunan Raja. Di HBS, dia belajar mengenai demokrasi dan kesetaraan di Eropa. Di masa inilah, naluri kebangsaannya tumbuh. Dia melihat terlalu banyak ketidak adilan yang dirasakan bangsa pribumi oleh aturan-aturan kolonial Belanda. Selepas lulus dari HBS, ia pun melanjutkan sekolah ke Stovia di Betawi (sekarang Jakarta). Sekolah kedokteran khusus untuk golongan indo dan pribumi keturunan raja. Namun, dia tidak menyelesaikan sekolahnya, karena lebih tertarik masuk ke dalam dunia jurnalistik dan organisasi yang kala itu dipelopori oleh masyarakat Tiong Hoa dan Arab. Ia pun kemudian pindah ke Bandung dan menikah dengan anak seorang tahanan politik asal pulau Halmahera.
Kedigdayaan jurnalistik Tirto, pertama kali terjadi pada tahun 1902. Goresan pena tajam Tirto Adhi Soerjo berhasil memenangkan perkara atas ketidakadilan yang dialami bangsanya. Residen Madiun, J.J Donner, berkonspirasi untuk melengserkan Brotodiningrat dari jabatannya sebagai Bupati Madiun. Donner yang bersengkokol dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun, Mangun Atmojo dan Adiputro, resah karena kerap berselisih paham dengan Bupati Madiun itu. Kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Donner melapor bahwa Brotodiningrat adalah gembong sejumlah kerusuhan yang terjadi di Karesidenan Madiun, bahkan di seluruh Jawa. Akibat laporan palsu tersebut, Brotodiningrat dinyatakan bersalah dan dibuang ke Padang sebagai pesakitan.
TAS tak tinggal diam. Ia mengumpulkan data tentang ketidakbenaran laporan Donner. TAS berseru pada pemerintah agar segera dilakukan penyelidikan. Di surat kabar Pembrita Betawi, tulisan TAS muncul secara kontinyu selama sekian bulan, dari April hingga Agustus 1902. Setelah melalui proses pemeriksaan ulang dan berdasarkan beragam keterangan serta data-data, termasuk apa yang diserukan TAS di Pembrita Betawi, akhirnya pemerintah mengklarifikasi keputusannya dengan menjelaskan bahwa Brotodiningrat adalah korban salah simpul dan keliru tafsir.
Pada tahun 1903, ia menerbitkan surat kabar pertamanya yaitu Soenda Berita. Inilah media massa pribumi pertama, yang dimodali, dikelola, serta diisi tenaga-tenaga pribumi sendiri. Media TAS adalah media mandiri, tidak di bawah perintah siapapun. Ia tak ingin bangsanya hidup di rumah kaca, yang segala tindak-tanduknya diawasi untuk kemudian disikapi dengan kekejian oleh pemerintah kolonial. Bersama Soenda Berita, TAS menumpahkan semua yang ada di alam pikirannya, yang menjadi tujuan dan idealismenya selama ini: memadukan perdagangan dan pers dengan tujuan untuk memajukan bangsa.
Di tahun 1907, TAS kemudian menerbitkan surat kabar Medan Prijaji di bandung (jl Naripan no.1) yang terbit bulanan dengan menggunakan bahasa melayu, yang kemudian terbit harian pada tahun 1910 dengan tiras 2000 eksemplar per hari, yang pada saat itu sangatlah besar, salah satu yang terbesar di dunia. Medan Prijaji adalah media advokasi pembela kepentingan rakyat, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada bangsa pribumi. Orang-orang pribumi yang merasa ditindas dan dirugikan oleh aparat pemerintah, juga pihak-pihak lain, dipersilahkan menyuarakan pengaduannya melalui redaksi Medan Prijaji. Lewat tulisannya yang tangkas dan mempesona, TAS melakukan pembelaan atas kasus-kasus yang dialami bangsanya, dan itu sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial. Tanpa disadari, TAS telah merintis salah satu peran media yang kini dikenal dengan jurnalisme advokasi: pers sebagai media pembela kepentingan rakyat yang tertindas.
Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto di bawah nama “Medan Prijaji” sbb: “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda”.
Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Surjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.
Kasus yang melegenda dari medan prijaji adalah kasus penganiayaan dan pembunuhan seorang siswa pribumi oleh guru totok Belanda. TAS geram. Ia datangi korban, berikan pengayoman, dan berkata, “Kita akan bikin ini menjadi perkara. Jangan takut pada pengadilan!” Esok harinya, tulisan pembelaan TAS atas kasus ini muncul di surat kabar Medan Prijaji sebagai berita utama, hingga menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pengadilan pun digelar, kasus disidangkan, vonis pun diputuskan: guru itu dipecat dan dikembalikan paksa ke negeri Belanda.
Dikarenakan pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji yang sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, membuat Medan Prijaji terkena delik pers pada tahun 1912 yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.
Di bidang organisasi, ia tak kalah melegenda. Pada tahun 1904, TAS mendirikan organisasi Sarekat Priyayi, sebuah organisasi yang diperuntukkan untuk kaum priyayi (sekarang PNS). Namun, organisasi ini tidak berjalan sesuai dengan yang ia rencanakan. Ia pun kemudian mengalihkan basis masa, dari golongan priyayi ke golongan pedagang. Ia pun kemudian menjadi penggagas berdirinya Sarekat Islam yang pada kala itu diketuai oleh H. Samanhudi. Ia bergerak di belakang layar. Yang paling terkenal adalah propaganda ”Boycott” yang ia serukan kepada para pedagang yang notabene mayoritas adalah anggota Syarikat untuk menolak membeli barang-barang dari pedagang Belanda, dan mengalihkan kerjasama dagang dengan golongan Tionghoa dan Arab. Perlu diketahui Syarikat Islam adalah organisasi pribumi pertama yang berjuang di untuk melawan kolonialisme Belanda, bukan Budi utomo ataupun Indische Partiej yang selama ini disebut oleh buku-buku sejarah.
Ketika TAS di buang ke Pulau Bacan, Syarikat Islam mengubah nama menjadi Syarikat Dagang Islam (SDI) yang diketuai oleh HOS Tjokroaminoto. SDI adalah organisasi dengan jumlah massa terbesar di Hindi yang anggotanya mencapai ratusan ribu. Organisasi besar yang merupakan hasil gagasan dan perjuangan dari TAS.
Antara tahun 1914-1918 sekembalinya ia dari Pulau Bacan, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia. Continue reading ‘Sang Pembaharu’
Ditulis dalam Curahan, Sejarah