Sudah lebih dari setengah abad, bangsa Indonesia terbebas dari kerangkeng penjajahan yang lebih dikenal dengan nama kolonialisme.  Suatu paham untuk menguasai sumber daya alam yang dikandung di bumi jajahan dengan jalan menaklukan bangsa di tanah yang akan dikuasai, sekaligus menguasai bangsa yang asal yang tinggal di bumi jajahan tersebut.

Belanda, sebagai penjajah terlama yang menghisap bumi pertiwi ini, datang dengan usungan awal mencari tanah baru untuk bisa membantu negaranya dari sisi ekonomis, dan Hindia adalah ladang yang penuh dengan sumberdaya yang luar biasa banyaknya. Mereka pun tampil sebagai penakluk bangsa hindia, kemudian memusatkan kekuasaan di tanah jawa.

Yang menjadi penekanan, mengapa bangsa belanda dapat bercokol begitu lama di bumi pertiwi?. Jawabannya adalah karena mereka mempelajari secara komprehensiv karakter dan watak bangsa Hindia, yang diwakili oleh raja-raja pribumi. Mereka menemukan, bahwa di Jawa banyak terdapat raja-raja yang memerintah suatu wilayah tertentu dengan seenak perutnya, akan tetapi rakyat dari raja tersebut tetap patuh. Setelah diteliti, para rakyat tersebut patuh walaupun nuraninya berteriak, tidak lain karena sebuah harapan agar sang raja tersebut akan menjadi tempat mereka bernaung. Walaupun mereka harus menggadaikan harga diri mereka dan megesampingkan hati mereka yang berontak dengan apa yang mereka perbuat.  Mereka mendukung apapun yang diperintahkan raja, tanpa memikirkan nasib rakyat atau rekannya yg lain. Yang mereka pikirkan hanya agar posisi dan kehidupan nya terjamin. Sebuah budaya feodalisme yang sangat mengakar, yang merupakan kelemahan terbesar bangsa ini.

Hal inilah yang kemudian dipergunakan oleh Belanda untuk terus menancapkan kekuasaannya. Mereka mendekati para raja-raja tersebut dengan segudang fasilitas dan daerah kekuasaan, untuk kemudian membuat perjanjian agar mereka tunduk dan membantu Belanda dalam semua segi. Diberi kekuasaan, menjadikan raja-raja tersebut sumringah. Mereka bangga dapat memiliki kekuasaan, dan akhirnya mereka menjadi boneka belanda dalam meneruskan kebijakan-kebijakan Belanda kepada masyarakat di setiap daerah kekuasaannya.

Belanda yang datang dengan pengetahuan Eropa yang demokratis, yang asalnya akan menerapkan faham itu di bumi Hindia, kemudian mengurungkan niatnya. Kenapa??, karena Belanda melihat bagaimana sistem kekuasaan di Hindia, dimana para raja begitu dihormati dan dianggap dewa. Para raja yang dengan keji menzolimi penduduknya untuk keuntungan pribadinya, dengan cara menekan rakyatnya untuk memberikan upeti sebesar-besarnya kepada sang raja, dan para rakyat hanya bisa pasrah. Sikap pasrah sebagai keadaan mereka yang tidak tahu harus berbuat apa untuk melawan. Sebuah buah dari kebodohan dan ketidakberanian. Akhirnya Belanda menjadikan para raja sebagai kaki tangan kekuasaannya, sebuah tindakan yang efisien, cukup kuasai rajanya, maka rakyatnya pun akan patuh. Dari hal inilah, muncul istilah kolonialisme Belanda. Apa pun yang Belanda inginkan, tinggal menyuruh para raja untuk menyampaikan ke rakyatnya, dan belanda hanya tinggal mengontrol pelaksanaan kebijakan tersebut di tiap daerah. Sungguh tragis.

Para raja pribumi yang haus akan kekuasaan, yang berlomba-lomba memberikan upeti kepada penjajah Belanda, dengan hasil peluh dan keringat penduduk pribumi. Penduduk pribuni yang hidup dalam kemelaratan dan kebodohan. Sementara sang raja, hidup bermewah-mewah dibawah ketiak Belanda. Itulah nasib bangsa ini di bawah kolonialisme Belanda dan para Raja Pribumi.

Kolonialisme Belanda. Dimana seorang pimpinan hanya mengetahui istilah “melarang, menyuruh, dan tersenyum merendahkan”, sedangkan bawahannya tidak mempunyai hak untuk berargumen dan wajib mengatakan “Ya”, sembari menjilat dan menghambakan dirinya kepada para pimpinannya. Itulah sebuah budaya feodal dan kolonialisme ala Belanda yang mereka pelajari dari para raja-raja bangsa kita pada jaman dahulu, yang memanfaatkan watak bangsa kita yang haus dengan kekuasaan, pujian dan juga materi. Sebuah bangsa yang terhanyut dalam kekuasaan, yang menganggap bahwa bila menjadi pemimpin, ia  adalah seorang raja yang bebas menyuruh bawahannya.

Itulah yang kulihat dan kurasakan di salah satu instansi tempatku mengabdi. Para pemimpin, membuat peraturan-peraturan yang merugikan karyawan, dengan jargon bahwa para karyawan telah mendapat penghsailan tambahan dari instansi itu. Tetapi apa yang didapat instansi dari jerih payah seluruh karyawan jauh lebih besar dari apa yang dibagikan kepada para karyawan. Ditengah menjeritnya para karyawan dengan tingkat kesejahteraan yang minim, para pemimpin mengirimkan upeti kepada pusat yang jumlahnya sangat besar, agar mereka dapat duduk dengan nyaman di posisi mereka. Agar sanjungan datang ke telinga mereka dan membuat bangga hatinya. Sungguh kenyataan yang pahit.

Sebuah pendapat saja, dari apa yang kurasakan dan dan kusaksikan. Sebuah keluh dan kesah dari jiwa yang hanya bisa pasrah dan hanya menjerit melalui tulisan.

 

Tinggalkan Balasan