Si Jago Kandang

Persib Bandung. Tim kebanggaan rakyat Jawa Barat, yang pada musim Liga Super Indonesia (LSI) 2009-2010 sampai tulisan ini dimuat membuat rekor kandang yang cukup fantastis. Dari 12 partai kandang, hanya satu pertandingan saja yang berakhir seri, yaitu ketika “Maung” Bandung ditahan imbang tanpa gol oleh Persija Jakarta, sisanya Persib menang. Rekor kandang ini kontras dengan hasil yang dicapai ketika tandang ke markas tim lain. Dari 12 laga, Persib hanya mampu menang dua kali, seri dua kali dan sisanya kalah. Hal tersebut mungkin umum di Liga Indonesia. Faktor-faktor non-teknis seperti tekanan pendukung tuan rumah dan juga (mungkin) keberpihakan wasit menjadi momok yang mempengaruhi mental bertanding tim tandang.

Fenomena jago kandang Persib tersebut, saya analogikan dengan sistem penegakan hukum di Bumi pertiwi ini. Banyak sekali fenomena-fenomena yang saya dengar, saksikan, maupun saya baca dari media elektronik dan cetak yang mengarah kepada sangat hebatnya pengaruh uang dan juga kekuasaan dalam mencari keberpihakan sang hukum. Hukum akan sangat buas atau juga mengada-ada bagi para pelanggar ataupun bukan pelanggar yang diharuskan untuk menjadi pelanggar. Sedangkan bagi para pemilik kekuasaan, dan juga pemilik gudang uang yang (mungkin) memberi persekot kepada para aparat berwenang, hukum akan menjadi sedemikian lunak, bahkan mungkin akan menjadi menyenangkan.

Kisah paling tragis mungkin dialami oleh seorang pria di Tuban. Istri dan anaknya meninggal dunia, ketika sepeda motor yang ia kendarai bersama 2 orang yang dicintainya mengalami kecelakaan ditabrak oleh oknum aparat kepolisian. Tapi apa daya, justru ia yang dijebloskan ke penjara dengan dakwaan kelalaian dalam berlalu lintas. Oknum aparat yang menabrak?? . Kasus-kasus orang miskin yang dibui dengan masalah sepele pun banyak diberitakan. Mencuri setandan pisang, ayam, kelapa, semua digilas habis oleh hukum negeri ini.

Apa yang terjadi kepada si pemilik kuasa dan gudang uang? kita sendiri juga tahu apa yang terjadi pada mereka. Meskipun ada dari mereka masuk bui, tempat yang seharusnya menjadi tempat mereka berkaca diri sebagai akibat dari perbuatan melanggar hukum mereka, malah disulap laksana hotel kelas presiden suite lengkap dengan alat-alat hiburan.

Aku hanya berharap, hukum di negeri ini akan semakin baik. Hukum yang akan menghukum dengan buas para pelanggar nya tanpa embel-embel kuasa dan juga harta. Sama seperti harapanku pada tim-tim di liga Super Indonesia. Tim yang menang adalah tim yang solid, kompak, berdeterminasi tinggi, dan memiliki semangat menjadi juara. Bukan hanya karena faktor tuan rumah. Yah, semoga…

~ oleh pojokcerita pada Maret 23, 2010.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.