Kualitas Pimpinan Bangsa…Ya, begitulah…
Kejadian ini berlangsung pada bulan Ramadhan tahun 2009 yang lalu. Pada waktu itu aku ditugaskan instansiku ke jakarta untuk mengirimkan surat kepada pimpinan di kantor pusat di jakarta. Instansiku adalah unit eselon dua di daerah, sedangkan unit eselon satu berada di jakarta. Sambil menunggu surat tugasku selesai diproses dan ditanda tangani aku mengobrol dengan kepala kepegawaian unit tersebut.
Setelah berbasa-basi sebentar, dia memperlihatkan foto seorang wanita. Dia bertanya,”Mas kenal dengan cewe ini?”. “Kenal Pa, dia teman saya dikantor”, jawabku sambil tersenyum. ” Dia ini sering pergi dengan saya lo mas, ini foto kami berdua di depan hotel di Semarang”, ujarnya sambil memperlihatkan foto kedua. Dengan polosnya aku berkata, “Ketemu pas lagi kegiatan dines ya pa”. “Oh, enggak, kami sering keluar masuk hotel sama-sama. Saya ga ngerti, padahal saya udah tua, kaki saya pincang sebelah lagi, dia masih suka sama saya”, ujarnya dengan muka kebanggaan. Aku kaget, wanita di foto tersebut yang kukenal adalah wanita yang baik, dan terkenal ramah dikantorku tapi…aku semakin menjadi penasaran. “Ohh…”, jawabku untuk kembali membuka keran informasi darinya. “Iya, bahkan seminggu sebelum dia kawin, dia masih cek in dengan saya di Marina. Sekarang suaminya ngancem aku terus, kecewa kali ya suaminya tau kalo istrinya barang bekas”, ucap dia sambil mengambil foto yang lain. “ini foto anak-anak saya dengan dia, dia deket ama anak-anak saya”, ujar dia sambil melihat foto. Aku ingin bertanya tentang istri dan ibu anak-anak itu, tetapi aku tahan karena takut dia tersinggung dan marah. “Ngancem gimana pa maksudnya?”, aku kembali mencoba mengorek informasi. ” Ya, dia sering ngancem lewat sms, trus no hp istrinya dia ganti..ya gitulah”, jawabnya. Aku hanya tertawa kecil, dan tidak lagi bertanya karena menurutku ini adalah masalah sensitif, apalagi dia adalah petinggi (eselon empat), saya mesti harus menjaga sikap.
Bapak kepala kepegawaian tersebut kemudian bertanya, “Sudah punya rumah mas?”. “Belum Pa, masih ngontrak. Abis disana harga rumah mahal. Nabung dulu pa”, jawabku. Dia lalu memperlihatkan foto dikomputer yang berada tepat di sebelah kirinya. “Ini rumah saya di Tangerang”, sambil memperbesar tampilan foto bergambar rumah. “Wah, rumahnya bagus pa”, jawabku penuh basa-basi. ” Saya, beli rumah ini setengah miliar lebih, yah buat pns macam saya, aga berat nyicilnya”. Gila, pikirku, sanggup untuk membeli rumah snilai setengah M. Kaya banget pikirku. ” Ini saya beli buat investasi, saya sih tinggal di jakarta”, lanjutnya. “Mantap pa, rumahnya emang pas buat santai”, jawabku mencari aman.
Setelah berbasa basi dengan rumah, dia mulai membuat topik baru. “Kenal dengan Pa xxx?” tanya nya. “Kenal pa, dia temen sebelah leb saya”, ujarku. ” Dia kan pandai mijet, jadi kalo saya ingin dipijet, tinggal telpon orang perso sana untuk ngirim dia ke jakarta sini. Kan lumayan sama-sama untung”, ujarnya sambil tersenyum. Kampret pikirku dalam hati, padahal mengirim seseorang untuk perjalanan dinas ke Jakarta untuk dua hari, minimal orang yang didinaskan mendapat uang jalan Rp. 2 juta, dan uang itu dari kas negara!!!. ” Iya pa, dia emang pinter mijet, saya pernah dia pijet, rasanya badan makin seger”, aku berucap untuk menyambung obrolan.
Ya, itulah kilasan obrolanku dengan salah seorang pejabat struktural di kementrian ku. Mengenai kualitas akhlaq dan moral, kita bisa nilai secara subjektif, tipe pemimpin seperti apa beliau. Hanya sekedar berbagi cerita mengenai pimpinan di negeri Indonesia tercinta kita.


