Kualitas Pimpinan Bangsa…Ya, begitulah…

•Juni 15, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kejadian ini berlangsung pada bulan Ramadhan tahun 2009 yang lalu. Pada waktu itu aku ditugaskan instansiku ke jakarta untuk mengirimkan surat kepada pimpinan di kantor pusat di jakarta. Instansiku adalah unit eselon dua di daerah, sedangkan unit eselon satu berada di jakarta.  Sambil menunggu surat tugasku selesai diproses dan ditanda tangani aku mengobrol dengan kepala kepegawaian unit tersebut.

Setelah berbasa-basi sebentar, dia memperlihatkan foto seorang wanita. Dia bertanya,”Mas kenal dengan cewe ini?”. “Kenal Pa, dia teman saya dikantor”, jawabku sambil tersenyum. ” Dia ini sering pergi dengan saya lo mas, ini foto kami berdua di depan hotel di Semarang”, ujarnya sambil memperlihatkan foto kedua. Dengan polosnya aku berkata, “Ketemu pas lagi kegiatan dines ya pa”. “Oh, enggak, kami sering keluar masuk hotel sama-sama. Saya ga ngerti, padahal saya udah tua, kaki saya pincang sebelah lagi, dia masih suka sama saya”, ujarnya dengan muka kebanggaan. Aku kaget, wanita di foto tersebut yang kukenal adalah wanita yang baik, dan terkenal ramah dikantorku tapi…aku semakin menjadi penasaran. “Ohh…”, jawabku untuk kembali membuka keran informasi darinya. “Iya, bahkan seminggu sebelum dia kawin, dia masih cek in dengan saya di Marina. Sekarang suaminya ngancem aku terus, kecewa kali ya suaminya tau kalo istrinya barang bekas”, ucap dia sambil mengambil foto yang lain. “ini foto anak-anak saya dengan dia, dia deket ama anak-anak saya”, ujar dia sambil melihat foto. Aku ingin bertanya tentang istri dan ibu anak-anak itu, tetapi aku tahan karena takut dia tersinggung dan marah. “Ngancem gimana pa maksudnya?”, aku kembali mencoba mengorek informasi. ” Ya, dia sering ngancem lewat sms, trus no hp istrinya dia ganti..ya gitulah”, jawabnya. Aku hanya tertawa kecil, dan tidak lagi bertanya karena menurutku ini adalah masalah sensitif, apalagi dia adalah petinggi (eselon empat), saya mesti harus menjaga sikap.

Bapak kepala kepegawaian tersebut kemudian bertanya, “Sudah punya rumah mas?”. “Belum Pa, masih ngontrak. Abis disana harga rumah mahal. Nabung dulu pa”, jawabku. Dia lalu memperlihatkan foto dikomputer yang berada tepat di sebelah kirinya. “Ini rumah saya di Tangerang”, sambil memperbesar tampilan foto bergambar rumah. “Wah, rumahnya bagus pa”, jawabku penuh basa-basi. ” Saya, beli rumah ini setengah miliar lebih, yah buat pns macam saya, aga berat nyicilnya”. Gila, pikirku, sanggup untuk membeli rumah snilai setengah M. Kaya banget pikirku. ” Ini saya beli buat investasi, saya sih tinggal di jakarta”, lanjutnya. “Mantap pa, rumahnya emang pas buat santai”, jawabku mencari aman.

Setelah berbasa basi dengan rumah, dia mulai membuat topik baru. “Kenal dengan Pa xxx?” tanya nya. “Kenal pa, dia temen sebelah leb saya”, ujarku. ” Dia kan pandai mijet, jadi kalo saya ingin dipijet, tinggal telpon orang perso sana untuk ngirim dia ke jakarta sini. Kan lumayan sama-sama untung”, ujarnya sambil tersenyum. Kampret pikirku dalam hati, padahal mengirim seseorang untuk perjalanan dinas ke Jakarta untuk dua hari, minimal orang yang didinaskan mendapat uang jalan Rp. 2 juta, dan uang itu dari kas negara!!!. ” Iya pa, dia emang pinter mijet, saya pernah dia pijet, rasanya badan makin seger”, aku berucap untuk menyambung obrolan.

Ya, itulah kilasan obrolanku dengan salah seorang pejabat struktural di kementrian ku. Mengenai kualitas akhlaq dan moral, kita bisa nilai secara subjektif, tipe pemimpin seperti apa beliau. Hanya sekedar berbagi cerita mengenai pimpinan di negeri Indonesia tercinta kita.

Si Jago Kandang

•Maret 23, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Persib Bandung. Tim kebanggaan rakyat Jawa Barat, yang pada musim Liga Super Indonesia (LSI) 2009-2010 sampai tulisan ini dimuat membuat rekor kandang yang cukup fantastis. Dari 12 partai kandang, hanya satu pertandingan saja yang berakhir seri, yaitu ketika “Maung” Bandung ditahan imbang tanpa gol oleh Persija Jakarta, sisanya Persib menang. Rekor kandang ini kontras dengan hasil yang dicapai ketika tandang ke markas tim lain. Dari 12 laga, Persib hanya mampu menang dua kali, seri dua kali dan sisanya kalah. Hal tersebut mungkin umum di Liga Indonesia. Faktor-faktor non-teknis seperti tekanan pendukung tuan rumah dan juga (mungkin) keberpihakan wasit menjadi momok yang mempengaruhi mental bertanding tim tandang.

Fenomena jago kandang Persib tersebut, saya analogikan dengan sistem penegakan hukum di Bumi pertiwi ini. Banyak sekali fenomena-fenomena yang saya dengar, saksikan, maupun saya baca dari media elektronik dan cetak yang mengarah kepada sangat hebatnya pengaruh uang dan juga kekuasaan dalam mencari keberpihakan sang hukum. Hukum akan sangat buas atau juga mengada-ada bagi para pelanggar ataupun bukan pelanggar yang diharuskan untuk menjadi pelanggar. Sedangkan bagi para pemilik kekuasaan, dan juga pemilik gudang uang yang (mungkin) memberi persekot kepada para aparat berwenang, hukum akan menjadi sedemikian lunak, bahkan mungkin akan menjadi menyenangkan.

Kisah paling tragis mungkin dialami oleh seorang pria di Tuban. Istri dan anaknya meninggal dunia, ketika sepeda motor yang ia kendarai bersama 2 orang yang dicintainya mengalami kecelakaan ditabrak oleh oknum aparat kepolisian. Tapi apa daya, justru ia yang dijebloskan ke penjara dengan dakwaan kelalaian dalam berlalu lintas. Oknum aparat yang menabrak?? . Kasus-kasus orang miskin yang dibui dengan masalah sepele pun banyak diberitakan. Mencuri setandan pisang, ayam, kelapa, semua digilas habis oleh hukum negeri ini.

Apa yang terjadi kepada si pemilik kuasa dan gudang uang? kita sendiri juga tahu apa yang terjadi pada mereka. Meskipun ada dari mereka masuk bui, tempat yang seharusnya menjadi tempat mereka berkaca diri sebagai akibat dari perbuatan melanggar hukum mereka, malah disulap laksana hotel kelas presiden suite lengkap dengan alat-alat hiburan.

Aku hanya berharap, hukum di negeri ini akan semakin baik. Hukum yang akan menghukum dengan buas para pelanggar nya tanpa embel-embel kuasa dan juga harta. Sama seperti harapanku pada tim-tim di liga Super Indonesia. Tim yang menang adalah tim yang solid, kompak, berdeterminasi tinggi, dan memiliki semangat menjadi juara. Bukan hanya karena faktor tuan rumah. Yah, semoga…

Nasib Agamaku di Bumi Pertiwi

•September 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Islam, agama yang mengajarkan kebaikan, agama yang telah disempurnakan oleh Sang Pencipta untuk kaum Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman. Agama yang dijadikan tuntunan dan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan diakhirat kelak. Agama yang berisi peraturan dan panduan dalam seluruh hidup manusia, baik dalam berteman, mencari jodoh, berdagang, bekerja, dan semua sesuatu dalam hidup manusia. Islam, sebuah agama yang indah.

Kasus yang terjadi di bumi pertwi tempatku lahir dan besar hingga saat ini, Islam sebagai agama yang sempurna terkesan dijadikan sebagai tameng untuk berbisnis dan juga berpolitik. Dalam berbisnis, yang sangat jelas adalah hadirnya seorang (yang katanya) Ustadz sebagai pengamat dan (konyolnya) dia pun  berkoar-koar mengumandangkan hukum Alloh dan juga hadist nabi dalam ihwal perjodohan, tetapi dia berkoar di acara Take Me/Him Out yang notabene secara tersirat menyuruh para pesertanya untuk berbuat zina dengan berpelukan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim. hal tersebut jelas-jelas zinah, tetapi dia malah tersenyum dan menjadi pengamat mengenai langgeng atau tidaknya perjodohan tersebut. Sungguh laknat.

Contoh lain lagi adalah ustadz yang berlaku konyol di sebuah acara situasi komedi. Dia berakting konyol dan menggelikan. Padahal, sunnah Rasulullah sendiri secara umum adalah tertawa maupun berlaku konyol secara berlebihan sebisa mungkin harus dihindari, padahal ustadz adalah penerus Rasul setelah Rasululloh tiada. Jadi tingkah laku nya pun harus sebisa mungkin sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Secara Politis, yang paling jelas adalah dalam kasus Syeh Puji yang menikahi gadis di bawah umur. Hal tersebut sebetulnya Halal, karena sesuai dengan hukum nikah, walaupun memang agak keterlaluan. Tapi para ulama sepertinya langsung mengharamkan hal tersebut dengan nada keras. Tetapi hal tersebut kontradiktif melihat banyaknya pasangan (diantaranya artis) yang terang-terangan kumpul kebo atau hamil di luar nikah. Atau seperti kasus acara Take me/him Out. Ke mana sikap tegas mereka??? tidak ada yang berkomentar di TV atau di media lainnya. Bandingkan dengan kasus Syeh Puji dan istrinya yang telah menikah, lebih baik mana???

Belum lagi dengan keputusan-keputusan kontroversial para ulama, yang mengharamkan segala sesuatu yang seharusnya diatur di dalam hukum pidana atau perdata. Contohnya adalah Golput Haram!!!. Hal tersebut seharusnyadapat diatur oleh hukum pemerintah seperti pelanggran lalu-lintas. Padahal dalam suatu sunnah Rasulullah mengatakan secara umum bahwa tidaklah boleh kita mengharamkan sesuatu yang tidak ada dalil kuat (Al-Qur’an dan Sunnah) untuk hal tersebut diharamkan, dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan.

Itulah, yang sekarang aku pikir, mengapa bumi pertiwi ini selalu ditimpa bencana yang bertubi-tubi. Mungkin (menurut pendapatku) adalah karena para alim ulama yang sudah tidak bisa lagi dijadikan pedoman dan tuntunan umat. Wallohu alam.

Sang Pembaharu

•Maret 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

tirto-mp

Tak ada satu bangsa, terutama Eropa, percaya pada kami bangsa kulit berwarna. Mereka bisa percaya dan sayang asal kekayaan bumi kami diberikan pada mereka seboleh-bolehnya dengan cuma-cuma. Sehingga kami miskin, mereka sejahtera. Mereka menjajah, kami dijajah.

(Tirto Adhi Soerjo, 1880-1918)

Memperingati hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan Nasional kepada 9 tokoh sejarah dari berbagai daerah. Salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan adalah penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20. R.M. Tirto Adhi Soerjo (TAS) diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena aktivitasnya sebagai pelopor pers nasional pribumi pertama di tahun 1907, di Bandung. Anugerah ini diusulkan oleh warga Jawa Barat.

Bagiku, dialah sang pembaharu yang merubah kehidupan bangsa ini, melalui perjuangannya yang dia lakoni dengan menggunakan jalur tinta dan organisasi. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS), sang pembaharu kehidupan bangsa Indonesia. Manusia yang mengesampingkan kehidupan ningratnya untuk berjuang agar bangsa di bawah kolonialisme Belanda di Hindia membuka simpul pikirannya untuk berjuang melawan, bukan untuk bersahabat dengan penjajah, seperti yang dilakukan oleh para raja-raja pribumi, khususnya di Jawa. Dialah Sang Pembuka, Dia Sang Anak Segala Bangsa.

TAS lahir di Blora pada tahun 1880. Dia lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya adalah seorang Bupati Bojonegoro. Ia pun mengecap sekolah HBS (setara SMU) yang merupakan sekolah khusus Totok (Eropa Asli), Indo, dan Pribumi keturunan Raja. Di HBS, dia belajar mengenai demokrasi dan kesetaraan di Eropa. Di masa inilah, naluri kebangsaannya tumbuh. Dia melihat terlalu banyak ketidak adilan yang dirasakan bangsa pribumi oleh aturan-aturan kolonial Belanda. Selepas lulus dari HBS, ia pun melanjutkan sekolah ke Stovia di Betawi (sekarang Jakarta). Sekolah kedokteran khusus untuk golongan indo dan pribumi keturunan raja. Namun, dia tidak menyelesaikan sekolahnya, karena lebih tertarik masuk ke dalam dunia jurnalistik dan organisasi yang kala itu dipelopori oleh masyarakat Tiong Hoa dan Arab. Ia pun kemudian pindah ke Bandung dan menikah dengan anak seorang tahanan politik asal pulau Halmahera.

Kedigdayaan jurnalistik Tirto, pertama kali terjadi pada tahun 1902. Goresan pena tajam Tirto Adhi Soerjo berhasil memenangkan perkara atas ketidakadilan yang dialami bangsanya. Residen Madiun, J.J Donner, berkonspirasi untuk melengserkan Brotodiningrat dari jabatannya sebagai Bupati Madiun. Donner yang bersengkokol dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun, Mangun Atmojo dan Adiputro, resah karena kerap berselisih paham dengan Bupati Madiun itu. Kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Donner melapor bahwa Brotodiningrat adalah gembong sejumlah kerusuhan yang terjadi di Karesidenan Madiun, bahkan di seluruh Jawa. Akibat laporan palsu tersebut, Brotodiningrat dinyatakan bersalah dan dibuang ke Padang sebagai pesakitan.

TAS tak tinggal diam. Ia mengumpulkan data tentang ketidakbenaran laporan Donner. TAS berseru pada pemerintah agar segera dilakukan penyelidikan. Di surat kabar Pembrita Betawi, tulisan TAS muncul secara kontinyu selama sekian bulan, dari April hingga Agustus 1902. Setelah melalui proses pemeriksaan ulang dan berdasarkan beragam keterangan serta data-data, termasuk apa yang diserukan TAS di Pembrita Betawi, akhirnya pemerintah mengklarifikasi keputusannya dengan menjelaskan bahwa Brotodiningrat adalah korban salah simpul dan keliru tafsir.

Pada tahun 1903, ia menerbitkan surat kabar pertamanya yaitu Soenda Berita. Inilah media massa pribumi pertama, yang dimodali, dikelola, serta diisi tenaga-tenaga pribumi sendiri. Media TAS adalah media mandiri, tidak di bawah perintah siapapun. Ia tak ingin bangsanya hidup di rumah kaca, yang segala tindak-tanduknya diawasi untuk kemudian disikapi dengan kekejian oleh pemerintah kolonial. Bersama Soenda Berita, TAS menumpahkan semua yang ada di alam pikirannya, yang menjadi tujuan dan idealismenya selama ini: memadukan perdagangan dan pers dengan tujuan untuk memajukan bangsa.

Di tahun 1907, TAS kemudian menerbitkan surat kabar Medan Prijaji di bandung (jl Naripan no.1) yang terbit bulanan dengan menggunakan bahasa melayu, yang kemudian terbit harian pada tahun 1910 dengan tiras 2000 eksemplar per hari, yang pada saat itu sangatlah besar, salah satu yang terbesar di dunia. Medan Prijaji adalah media advokasi pembela kepentingan rakyat, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada bangsa pribumi. Orang-orang pribumi yang merasa ditindas dan dirugikan oleh aparat pemerintah, juga pihak-pihak lain, dipersilahkan menyuarakan pengaduannya melalui redaksi Medan Prijaji. Lewat tulisannya yang tangkas dan mempesona, TAS melakukan pembelaan atas kasus-kasus yang dialami bangsanya, dan itu sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial. Tanpa disadari, TAS telah merintis salah satu peran media yang kini dikenal dengan jurnalisme advokasi: pers sebagai media pembela kepentingan rakyat yang tertindas.

Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto di bawah nama “Medan Prijaji” sbb: “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda”.

Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Surjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.

Kasus yang melegenda dari medan prijaji adalah kasus penganiayaan dan pembunuhan seorang siswa pribumi oleh guru totok Belanda. TAS geram. Ia datangi korban, berikan pengayoman, dan berkata, “Kita akan bikin ini menjadi perkara. Jangan takut pada pengadilan!” Esok harinya, tulisan pembelaan TAS atas kasus ini muncul di surat kabar Medan Prijaji sebagai berita utama, hingga menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pengadilan pun digelar, kasus disidangkan, vonis pun diputuskan: guru itu dipecat dan dikembalikan paksa ke negeri Belanda.

Dikarenakan pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji yang sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, membuat Medan Prijaji terkena delik pers pada tahun 1912 yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.

Di bidang organisasi, ia tak kalah melegenda. Pada tahun 1904, TAS mendirikan organisasi Sarekat Priyayi, sebuah organisasi yang diperuntukkan untuk kaum priyayi (sekarang PNS). Namun, organisasi ini tidak berjalan sesuai dengan yang ia rencanakan. Ia pun kemudian mengalihkan basis masa, dari golongan priyayi ke golongan pedagang. Ia pun kemudian menjadi penggagas berdirinya Sarekat Islam yang pada kala itu diketuai oleh H. Samanhudi. Ia bergerak di belakang layar. Yang paling terkenal adalah propaganda ”Boycott” yang ia serukan kepada para pedagang yang notabene mayoritas adalah anggota Syarikat untuk menolak membeli barang-barang dari pedagang Belanda, dan mengalihkan kerjasama dagang dengan golongan Tionghoa dan Arab. Perlu diketahui Syarikat Islam adalah organisasi pribumi pertama yang berjuang di untuk melawan kolonialisme Belanda, bukan Budi utomo ataupun Indische Partiej yang selama ini disebut oleh buku-buku sejarah.

Ketika TAS di buang ke Pulau Bacan, Syarikat Islam mengubah nama menjadi Syarikat Dagang Islam (SDI) yang diketuai oleh HOS Tjokroaminoto. SDI adalah organisasi dengan jumlah massa terbesar di Hindi yang anggotanya mencapai ratusan ribu. Organisasi besar yang merupakan hasil gagasan dan perjuangan dari TAS.

Antara tahun 1914-1918 sekembalinya ia dari Pulau Bacan, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia. Lanjutkan membaca ‘Sang Pembaharu’

Kolonialisme yang masih ada…

•Maret 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah lebih dari setengah abad, bangsa Indonesia terbebas dari kerangkeng penjajahan yang lebih dikenal dengan nama kolonialisme.  Suatu paham untuk menguasai sumber daya alam yang dikandung di bumi jajahan dengan jalan menaklukan bangsa di tanah yang akan dikuasai, sekaligus menguasai bangsa yang asal yang tinggal di bumi jajahan tersebut.

Belanda, sebagai penjajah terlama yang menghisap bumi pertiwi ini, datang dengan usungan awal mencari tanah baru untuk bisa membantu negaranya dari sisi ekonomis, dan Hindia adalah ladang yang penuh dengan sumberdaya yang luar biasa banyaknya. Mereka pun tampil sebagai penakluk bangsa hindia, kemudian memusatkan kekuasaan di tanah jawa.

Yang menjadi penekanan, mengapa bangsa belanda dapat bercokol begitu lama di bumi pertiwi?. Jawabannya adalah karena mereka mempelajari secara komprehensiv karakter dan watak bangsa Hindia, yang diwakili oleh raja-raja pribumi. Mereka menemukan, bahwa di Jawa banyak terdapat raja-raja yang memerintah suatu wilayah tertentu dengan seenak perutnya, akan tetapi rakyat dari raja tersebut tetap patuh. Setelah diteliti, para rakyat tersebut patuh walaupun nuraninya berteriak, tidak lain karena sebuah harapan agar sang raja tersebut akan menjadi tempat mereka bernaung. Walaupun mereka harus menggadaikan harga diri mereka dan megesampingkan hati mereka yang berontak dengan apa yang mereka perbuat.  Mereka mendukung apapun yang diperintahkan raja, tanpa memikirkan nasib rakyat atau rekannya yg lain. Yang mereka pikirkan hanya agar posisi dan kehidupan nya terjamin. Sebuah budaya feodalisme yang sangat mengakar, yang merupakan kelemahan terbesar bangsa ini.

Hal inilah yang kemudian dipergunakan oleh Belanda untuk terus menancapkan kekuasaannya. Mereka mendekati para raja-raja tersebut dengan segudang fasilitas dan daerah kekuasaan, untuk kemudian membuat perjanjian agar mereka tunduk dan membantu Belanda dalam semua segi. Diberi kekuasaan, menjadikan raja-raja tersebut sumringah. Mereka bangga dapat memiliki kekuasaan, dan akhirnya mereka menjadi boneka belanda dalam meneruskan kebijakan-kebijakan Belanda kepada masyarakat di setiap daerah kekuasaannya.

Belanda yang datang dengan pengetahuan Eropa yang demokratis, yang asalnya akan menerapkan faham itu di bumi Hindia, kemudian mengurungkan niatnya. Kenapa??, karena Belanda melihat bagaimana sistem kekuasaan di Hindia, dimana para raja begitu dihormati dan dianggap dewa. Para raja yang dengan keji menzolimi penduduknya untuk keuntungan pribadinya, dengan cara menekan rakyatnya untuk memberikan upeti sebesar-besarnya kepada sang raja, dan para rakyat hanya bisa pasrah. Sikap pasrah sebagai keadaan mereka yang tidak tahu harus berbuat apa untuk melawan. Sebuah buah dari kebodohan dan ketidakberanian. Akhirnya Belanda menjadikan para raja sebagai kaki tangan kekuasaannya, sebuah tindakan yang efisien, cukup kuasai rajanya, maka rakyatnya pun akan patuh. Dari hal inilah, muncul istilah kolonialisme Belanda. Apa pun yang Belanda inginkan, tinggal menyuruh para raja untuk menyampaikan ke rakyatnya, dan belanda hanya tinggal mengontrol pelaksanaan kebijakan tersebut di tiap daerah. Sungguh tragis.

Para raja pribumi yang haus akan kekuasaan, yang berlomba-lomba memberikan upeti kepada penjajah Belanda, dengan hasil peluh dan keringat penduduk pribumi. Penduduk pribuni yang hidup dalam kemelaratan dan kebodohan. Sementara sang raja, hidup bermewah-mewah dibawah ketiak Belanda. Itulah nasib bangsa ini di bawah kolonialisme Belanda dan para Raja Pribumi.

Kolonialisme Belanda. Dimana seorang pimpinan hanya mengetahui istilah “melarang, menyuruh, dan tersenyum merendahkan”, sedangkan bawahannya tidak mempunyai hak untuk berargumen dan wajib mengatakan “Ya”, sembari menjilat dan menghambakan dirinya kepada para pimpinannya. Itulah sebuah budaya feodal dan kolonialisme ala Belanda yang mereka pelajari dari para raja-raja bangsa kita pada jaman dahulu, yang memanfaatkan watak bangsa kita yang haus dengan kekuasaan, pujian dan juga materi. Sebuah bangsa yang terhanyut dalam kekuasaan, yang menganggap bahwa bila menjadi pemimpin, ia  adalah seorang raja yang bebas menyuruh bawahannya.

Itulah yang kulihat dan kurasakan di salah satu instansi tempatku mengabdi. Para pemimpin, membuat peraturan-peraturan yang merugikan karyawan, dengan jargon bahwa para karyawan telah mendapat penghsailan tambahan dari instansi itu. Tetapi apa yang didapat instansi dari jerih payah seluruh karyawan jauh lebih besar dari apa yang dibagikan kepada para karyawan. Ditengah menjeritnya para karyawan dengan tingkat kesejahteraan yang minim, para pemimpin mengirimkan upeti kepada pusat yang jumlahnya sangat besar, agar mereka dapat duduk dengan nyaman di posisi mereka. Agar sanjungan datang ke telinga mereka dan membuat bangga hatinya. Sungguh kenyataan yang pahit.

Sebuah pendapat saja, dari apa yang kurasakan dan dan kusaksikan. Sebuah keluh dan kesah dari jiwa yang hanya bisa pasrah dan hanya menjerit melalui tulisan.

 

Sisi Lain Wanita…

•November 12, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Wanita, makhluk ciptaan Tuhan yang entah mengapa, dapat membuat kaum pria rela untuk melakukan apapun untuk nya. Makhluk ciptaan Tuhan, yang meskipun memiliki kulit, tulang , dan sistem kehidupan yang umumnya yang sama dengan pria, namun memiliki nilai pesona keindahan melebihi apaun di muka bumi ini. Sebuah kelebihan yang dianugerahkan Sang Pencipta khusus kepada makhluknya yang disebut wanita. Dibalik semua keindahan tersebut, terdapat sejuta tanya mengenai hati dan perasaan wanita. Selama aku hidup, aku masih belum dapat memahami apa yang ada di hati maupun pikiran setiap wanita. Sepanjang pergaulanku dengan wanita, terdapat pribadi-pribadi unik namun misterius mengenainya. Namun terdapat beberapa hal yang dapat aku pelajari mengenai wanita, yang juga selaras dengan yang disampaikan Rita A. Houlihan dalam bukunya berjudul Woman Talks About Women.

 

Terdapat tiga hal yang mendasari tingkah hidup kaum hawa, yaitu (Houlihan, A., Rita) :

1.       Kehidupan wanitua dipusatkan pada orang lain. Hal ini nampak dalam kecendrungan dan dorongan hatinya untuk mencintai dan memberi

2.       Hidup yang selalu dipusatkan pada orang lain mempunyai konsekuensi lebih lanjut. Wanita akan mengalami semacam kegelisahan, apabila ia tidak mempunyai kesempatan untuk mencinta. Kesempatan tersebut berkaitan dengan pula dengan kebutuhannya akan kepastian. Kegelisahan tersebut dapat dipulihkan kalau mereka mendapat kepastian bahwa dirinya diterima, diakui, dicintai, dan dipercayai. Tanpa kepastian ini mereka biasanya enggan untuk mencinta, disaat itulah kecemasan dan kegelisahan mulai muncul.

3.       Wanita pada umumnya sangat peka, subyektif, dan memperhatikan akan hal-hal kecil. Semuanya punya kaitan dengan minatnya dengan orang lain.

 

Tiga hal tersebut kemudian dijabarkan dengan terperinci mengenai polah kaum hawa, yaitu:

a.       Kecendrungan untuk memusatkan perhatian pada orang lain, membuat wanita peka terhadap setiap keadaan. Setiap situasi dan peristiwa ditanggapinya secara pribadi. Apa yang dirasakannya, itulah yang dipertahankan tanpa suatu analisa terlebih dahulu, sehingga objektivitas terhadap masalah tidak mendapat tempat.

b.       Dalam relasi dengan orang lain, wanita lebih menempatkan dirinya sebagai pemberi reaksi. Mereka umumnya cenderung untuk tidak mengatakan apa yang dia pikirkan, tetapi mengatakan apa yang menurut pemikirannya dikehendaki oleh orang lain. Namun hal ini tidak berarti bahwa wanita picik. Tindakan tersebut bukanlah suatu perbuatan yang direncanakan, tetapi merupakan intuisi kewanitaannya. Reaksi yang timbul dari kebutuhannya akan rasa aman, sehingga tidak heran kalau mereka cenderung untuk mencocokan jawabannya dengan reaksi orang lain.

c.        Cinta adalah elemen dasar dari kehidupan wanita. Wanita akan dapat melakukan apapun bila ia mencintai, dan akan melakukan lebih apabila ia tahu dicintai.

d.       Senyum dari orang sekitar, terutama dari kaum lelaki, memberikan kesan yang mendalam di hati wanita. Senyum memberikan kepastian bahwa mereka disukai.

 

Menutut analisa dan pengalamanku bersama wanita, yang paling membahayakan bagi wanita adalah point c. Bila ia merasakan dirinya dicintai, dia pun akan merespon dengan berusaha menunjukkan bahwa ia pun mencintai. Sebuah hal yang menjadi sasaran empuk bagi para lelaki. Wanita akan memberikan apapun yang diminta orang yang memberinya cinta, baik cintanya sendiri, waktu, harta, dan yang paling berbahaya adalah fisiknya. Memang tidak semua wanita begitu, banyak pula wanita yang lebih berpikiran cukup saja memberikan cinta tanpa perlu memberikan fisiknya. Aku hanya bermaksud agar para wanita lebih bisa berhati-hati dalam menjaga kesucian dirinya, karena menurut pandanganku secara subjektif, para lelaki adalah makhluk yang senantiasa memanfaat kan kesempatan untuk mendapatkan apapun dari wanita, baik cintanya, terutama hubungan fisik. Oleh sebab itu, wanita harus secara objektif dalam menilai cinta, terutama dari lawan jenisnya. Jangan sampai melepas apa yang berharga dari dirinya demi cinta pasangan terutama pria sebelum hal-hal tersebut menjadi sesuatu yang legal, khususnya secara agama.

 

Wanita dilahirkan untuk mencinta dan memberi demi cinta. Wanita hidup dengan hatinya. Inilah sisi hidup wanita yang harus kita jaga dan perhatikan.

Bangsa Kebakaran Jenggot

•Oktober 30, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Judul di atas aku anggap sangatlah tepat bila disematkan kepada bangsa Indonesia. Kenapa?, ya, karena menurutku, bangsa di Negara ini sangat mudah terpancing akan isu-isu yang merebak, untuk kemudian berlomba-lomba dalam menunjukkan eksistensi diri ataupun kelompoknya dengan melakukan aksi-aksi berupa kecaman, demonstrasi, ataupun hanya berpendapat,baik secara nasional ataupun secara lokal dengan berargumen di warung kopi. Contoh yang paling hangat dari adalah ketika terekspose (entah sengaja ataupun tidak) seorang pengusaha dan pemilik pondok pesantren di Semarang yang menyebut dirinya Syeikh menikahi seorang gadis berusia 12 tahun, yang notabene dianggap masih bocah ingusan.

Mendengar berita tersebut, berbagai kalangan sontak memberikan tanggapan, yang kurasa hampir semuanya menyudutkan sang Syeikh dengan alasan pelanggaran hak anak, pelanggaran UU, dan berbagai kecaman lainnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) lebih dulu mengambil tindakan dengan melaporkan Syeih tersebut ke kepolisian, Kak Seto tak mau tinggal diam, dia bahkan langsung menemui syeikh dan berbicara empat mata, entah apa yang mereka bicarakan, sampai akhirnya syeikh tersebut memulangkan istrinya ke orangtuanya. Belum lagi pendapat dari MUI, para ustadz, anggota dewan, dan masyarakat sipil yang ramai-ramai mengecam.

Yang paling menggelikan, saking mudahnya terbakar suasana, terjadi unjuk rasa oleh para guru dan murid Taman Kanak-kanak (TK) di Bogor. Aksi mereka tentu saja mengecam tindakan menikahi wanita di bawah umur dengan alasan utama, seharusnya wanita itu bersekolah. Apa yang ada di pikiran para guru tersebut, sehingga (menurutku) menghasud anak didiknya yang belum mengerti apa-apa hanya sebagai alat. Para guru yang seharusnya mendidik murid-muridnya  (kembali menurut pendapatku) dengan upaya argumentatif dan solutif  dalam menyelesaikan masalah.

Seberapa pentingnyakah KPAI, Kak Seto, Para pejabat, dan masyarakat sibuk mengurusi urusan pernikahan tersebut, dibandingkan dengan (mungkin) jutaan anak dibawah umur yang hidup dijalanan, menggelandang, mengamen, bahkan meminta-minta tanpa pernah berpikir mengenai sebuah masa depan yang cerah dan penuh keceriaan. Apakah mereka juga memikirkan solusi yang jelas mengenai banyaknya wanita dibawah umur yang dijual kelamin dan keperawanannya. Apa juga mereka sadar bahwa di tanah air Indonesia ini sangat banyak anak-anak yang (terpaksa) putus sekolah, karena ketidakmampuan ekonomi orang tua, apa yang komisi dan orang-orang yang mengaku pelindung hak-hak anak lakukan?? Dimana pula para ustadz yang mengecam pernikahan tersebut, ketika dilingkungannya banyak terjadi perzinahan yang dilakukan dengan kedok berpacaran yang kini dilakukan secara luar biasa terang-terangan???

Kembali kepada persoalan pernikahan di usia dini tersebut, apakah juga mereka berpikir secara komprehensive, mengenai nasib dan masa depan anak berusia 12 tahun itu ketika dipaksa bercerai dengan suaminya, bagiku semuanya adalah sebuah upaya pengakuan terhadap sebuah eksistensi yang layak ditertawakan. Aku pun tidak menyetujui pernikahan di usia dini tersebut meskipun secara agama tidak dilarang, karena dari segi psikis dan jasmani dia belum siap ke jenjang tersebut. Apalagi membayangkan dirinya putus sekolah, padahal dia maupun orang tuanya dikategorikan mampu. Aku pun muak dengan tingkah orang (yang mengaku) syeikh tersebut yang sangat arogan. Terus terang, tulisanku ini hanyalah sebuah ungkapan kekesalan kepada para petinggi dan juga kepada bangsa ini (termasuk diriku sendiri) atas kelakuan-kelakuan yang lebih membesarkan hal-hal yang (kuanggap) sepele dibandingkan hal lain yang sangat penting untuk segera ditangani.

Aku hanya bisa berharap, para pemimpin bangsa, pemimpin LSM, serta semua warga bangsa ini dapat belajar berpikir secara sistematis dan menyeluruh dalam menyikapi pelbagai masalah, sehingga solusi yang didapat adalah solusi yang optimal dan menguntungkan banyak pihak. Ya, aku berharap bangsa ku menjadi bangsa seperti itu…